Members Login
Username 
 
Password 
    Remember Me  
Post Info TOPIC: AL FAATIHAH (PEMBUKAAN) & ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)


Senior

Status: Offline
Posts: 172
Date:
AL FAATIHAH (PEMBUKAAN) & ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)
 


MUQADDIMAH

Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri
dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap
diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan
surat Makkiyyah.

Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat
inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan.

Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk
Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan
karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.

Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang)
karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan
seluruh isi Al Quraan, yaitu :

1.      Keimanan :

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana
dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas
suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber
segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini.

Diantara ni'mat itu ialah : ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan
menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak
hanya berarti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung arti
tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa
segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan
dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang
Maha Berkuasa di alam ini.

Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah
diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga
menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah
keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna
bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan
masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup
dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh
ayat 5, yaitu : "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-
lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon
pertolongan).

Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman
terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai
Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala
sesuatutunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut
kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi
pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan
yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan
kepada Allah, selanjutnya lihat not 66 .

2.      Hukum-hukum :

Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini
ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan
dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak,
hukum-hukum dan pelajaran.

3.      Kisah-kisah :

Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah.
Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para
Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud
dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para
shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa'
(orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang
saleh). "Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"ialah
golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat
Al Quraan pada surat-surat yang lain.

AL-FATIHAH (PEMBUKAAN)
SURAT KE 1 : 7 ayat

(1:1)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [1]

(1:2)
Segala puji [2] bagi Allah, Tuhan semesta alam. [3]

(1:3)
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(1:4)
Yang menguasai [4] di Hari Pembalasan [5]

(1:5)
Hanya Engkaulah yang kami sembah, [6] dan hanya kepada Engkaulah kami
meminta pertolongan. [7]

(1:6)
Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus,

(1:7)
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada
mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat. [9]


# [1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut
nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan
menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan
sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah
dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi
makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu
nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-
Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi
pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan
Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

# [2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatan-nya
yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji
Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain
halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang
terhadap ni'mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi
Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut
dipuji.

# [3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki,
Mendidik dan Memelihara. Lafadz "rabb" tidak dapat dipakai selain
untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait
(tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan
yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam
manusia,alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan
sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

# [4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan "mim",ia berarti:
pemilik. Dapat pula dibaca dengan "Malik" (dengan memendekkan mim),
artinya: Raja.

# [5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-
masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang
buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumul-hisaab,
yaumuljazaa' dan sebagainya.

# [6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan
yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran ALlah, sebagai
Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai
kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

# [7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah:
mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang
tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

# [8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata "hidayaat": memberi
petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini
bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

# [9] Yang dimaksud dengan "mereka yang dimurkai" dan "mereka yang
sesat" ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

PENUTUP
Surat "Al Fatihaah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam,
kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quraan yang 113
surat berikutnya. Persesuaian surat ini dengan surat "Al Baqarah" dan
surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik
pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat
yang sesudahnya. Dibahagian akhir surat "Al Faatihah" disebutkan
permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke-jalan yang
lurus, sedang surat "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "al
Kitaab" (Al Quraan) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan
yang dimaksudkan itu.

======================================================================
ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)

MUQADDIMAH

Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah
dan diturunkan sesudah surat Adh Dhuhaa. Nama "Alam Nasyrah" diambil
dari kata "Alam Nasyrah" yang terdapat pada ayat pertama, yang
berarti: bukankah Kami telah melapangkan.

Pokok-pokok isinya :

Penegasan tentang ni'mat-ni'mat Allah s.w.t. yang diberikan kepada
Nabi Muhammad s.a.w., dan pernyataan Allah bahwa disamping kesukaran
ada kemudahan karena itu diperintahkan kepada Nabi agar tetap
melakukan amal-amal saleh dan bertawakkal kepada-Nya.

ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)
SURAT KE 94 : 8 ayat.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

PERINTAH ALLAH KEPADA MUHAMMAD S.A.W. AGAR TERUS BERJUANG DENGAN
IKHLAS DAN TAWAKKAL

(94:1)
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

(94:2)
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

(94:3)
yang memberatkan punggungmu [1585]?

(94:4)
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu [1586],

(94:5)
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

(94:6)
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

(94:7)
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain [1587],

(94:8)
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

# [1585] Yang dimaksud dengan "beban" di sini ialah kesusahan-
kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan
risalah.

# [1586] Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini maksudnya ialah
meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam
kalimat syahadat, menjadikan ta'at kepada Nabi termasuk ta'at kepada
Allah dan lain-lain.

# [1587] Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu
(Muhammad) telah selesai berda'wah maka beribadatlah kepada Allah;
apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah
urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: Apabila telah selesai
mengerjakan shalat berdo'alah.

PENUTUP

Surat Alam Nasyrah ini merupakan tasliyah (penghibur hati) bagi Nabi
Muhammad s.a.w.

HUBUNGAN SURAT ALAM NASYRAH DENGAN SURAT AT TIIN :

Dalam surat Alam Nasyrah, Allah s.w.t. menjelaskan perintah kepada
Nabi Muhammad s.a.w selaku manusia sempurna. Maka dalam surat At
Tiin, diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang
mempunyai kesanggupan baik lahir maupun batin. Kesanggupannya itu
menjadi kenyataan bilamana mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a


__________________
Sifu_sgtinggi ---lll---


Veteran

Status: Offline
Posts: 45
Date:
RE: AL FAATIHAH (PEMBUKAAN) & ALAM NASYRAH (BUKANKAH TELAH KAMI LAPANGKAN)
 



Solat Berjemaah Latih Khusyuk



BERSOLAT di belakang imam, iaitu secara berjemaah antara cara untuk kita melatih diri supaya khusyuk dalam mengerjakan ibadat paling utama itu.

Melalui cara berjemaah, ia dapat menimbulkan rasa khusyuk pada setiap rukun. Khusyuk dalam solat adalah antara perkara yang pertama diangkat daripada umat Nabi Muhammad.

Kita hendaklah merebut peluang waktu dan solat lain, selain solat fardu iaitu dengan mengerjakan segala solat sunat dan nawafil.

Menunaikan solat sunat dan nawafil adalah kesempatan berharga dan peluang yang sentiasa terbuka bagi melatih diri bagaimana untuk khusyuk ketika bersolat.

Dalam mendirikan solat sunat dan nawafil, hendaklah kita melatih diri dengan mengerjakannya disertai amalan memanjangkan bacaan dan berdiri dengan lebih lama.

Ia dilakukan selain pada waktu yang diriwayatkan mengenai ketidakharusan memperpanjangkan bacaan seumpama bacaan dalam solat fajar.

Rasulullah bersabda bermaksud: "Solat yang paling afdal adalah dengan qunut yang lama." Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya makna qunut yang lama adalah berdiri dengan lama.

Bersegeralah dan memanjangkan rukuk dan sujud serta perbanyakkan doa dalam sujud.

Rasulullah memohon perlindungan dengan Allah daripada ketidakwujudan khusyuk dalam solat di mana Baginda bersabda bermaksud:

"Wahai Allah, Sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari hati yang tidak khusyuk." (Hadis riwayat At-Tirmidzi dan An Nisaai).



__________________


Senior

Status: Offline
Posts: 393
Date:
 

thanz 4 da knwlegde...




__________________
PEJUANGKAN APE YANG PERLU DIPERJUANGKAN...///
Page 1 of 1  sorted by
 
Quick Reply

Please log in to post quick replies.

Tweet this page Post to Digg Post to Del.icio.us


Create your own FREE Forum
Report Abuse
Powered by ActiveBoard